Selasa, 20 November 2007

TAMBORA: AMAZING MOUNTAIN (bag.pertama)


Go To Desa Pancasila

Berangkat ke Dompu hari sabtu tanggal 13 Agustus 2005 jam 09.15. Harusnya ngumpul jam 08.00. Tapi aku salah informasi berangkat sore harinya. Jadi aku masih santai-santai, paginya malah nganter istri tercinta nengok temannya yang lagi KKN di Desa Karang Pule, desa dimana banyak korban busung lapar. Dengan tergopoh gopoh aku nyusul teman-teman yang sudah nunggu di terminal Bertais. Untung aja busnya berhasil aku temukan setelah lama mencari. Banyak yang ketinggalan barang-barang yang seharusnya aku bawa. Peralatan mandi, ponco, sandal gunung, dan yang paling bikin menyesal di kemudian hari, tidak bawa kamera. Padahal udah disiapin, tinggal ngambil Kamera Digital Canon Powershot S410 di tempat kakakku di Pejeruk. Sebenarnya kepikiran mau bawa kamera SLR Canon EF kesayanganku, tapi aku urungkan karena besar dan harus hati-hati ketika membawa.Tidak sempat, keburu ditunggu teman-teman, karena aku cuma dikasih waktu 30 menit untuk sampai terminal Bertais. Padahal aku belum packing. Akhirnya packing seadanya dengan benjolan berat di tas sana sini….

Vivon Sayang, itulah nama bus yang akan membawaku dan teman-teman ke Dompu. Dalam bayanganku busnya full AC, recleaning seat, pokoknya executive class lah! Kursi tetap recleaning seat meski rusak, pendinginnya pakai AC juga tapi Angin Cendela. Baru sampai Narmada, bus sempat mogok tepat di depan Pasar Keru. Jalan macet tak terhindari. Alhamdulillah akhirnya setelah didorong oleh orang-orang pasar, akhirnya bisa jalan juga. Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Ketika di kapal ferry dalam perjalanan menuju Poto Tano, kami bertemu seseorang dari Lotim. Beberapa rombongan kami kenal sama dia. Aku dan teman-teman dikasih buah anggur. Lumayan lah buat ganjal perut yang sudah mengalunkan irama keroncongan karena belum makan sejak tadi pagi.

Sampai di Sumbawa Besar kami makan siang. Lagi-lagi bus mogok di halaman rumah makan tempat kami istirahat. Penumpang semuanya gelisah. Meskipun kami was-was, kami tetap ceria. Itulah yang aku sukai dari ikhwah. Meski sebenarnya susah, tetap ceria. Aku berfikir seandainya itu terjadi pada diriku pada perjalanan sendiri tanpa ada teman, wah pasti perasaanku gelisah dan kesal menjadi satu. Akhirnya kami charter bus kecil. Bus yang punya kapasitas 20-an orang diisi 30-an. Bejubel! Tapi kita tetap ceria, bahkan diantaranya itsar (mendahulukan kepentingan untuk saudara yang lain) sama ikhwah (sodara) lain untuk duduk. Bahkan tetap ceria pada saat bus yang kami tumpangi pecah ban kira-kira di daerah Empang, Sumbawa Besar. Subhanallah, indahnya ukhuwwah…
Kami sampai di Dompu sekitar jam 01.00 tanggal 14 November 2005 langsung ke tempat Pak Henry, shelter kami di Kota Dompu.

Dunia Mas, itu nama mini bus yang membawa kami ke lereng Gunung Tambora. Dunia Mas memang mempunyai trayek Dompu-Calabai. Perjalanan yang luar biasa. Karena kami menyusuri pantai yang kondisinya panas dan kering, jalan kerikil dan batu dengan aspal hancur, melewati padang savana yang rumputnya kering yang ditumbuhi pohon Bidara yang mendominasinya. Melihatnya saja sudah terasa panas, nggak kebayang deh kalau berada di tengah-tengahnya. Kata Pak Darwis (Bima), seandainya jalan yang kami lalui itu bagus, mungkin sudah seperti Texas di Amerika dengan Cowboy-nya. Terbayang beratnya cobaan Bilal bin Rabah ra. Ketika disiksa di padang pasir panas karena mempertahankan Aqidahnya. Jadi, rasa panas yang mendera tubuh kami belum seberapa apabila dibandingkan para sahabat Rasul.

Sekitar jam 14.00 kami sampai di Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat. Kesan kami memang nama yang Nasionalis dan sangat Orde Baru. Malah ada masjid yang namanya ‘Qubul Wathon’. Mungkin saja maksudnya Hubbul Wathon. Nah loh, artinya jadi beda jauh….

Mengenal Tambora
Okey, kita cari tahu dulu tentang Aktivitas gunung dengan ketinggian 2850 m dpl ini. Tanda-tanda Gunung Tambora akan meletus sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1812. Dan akhirnya, tanggal 10 April 1815 Gunung Tambora meletus hebat. Letusannya mengeluarkan lebih dari 100 km3 magma dan menewaskan 92.000 orang. Dan secara tidak langsung menyebabkan 82.000 orang meninggal karena penyakit menular dan kelaparan. Aerosol yang dikeluarkan mampu menutupi Sinar Matahari dan menyebabkan penurunan temperature global seluruh dunia sebesar 3 derajat Celcius. Hal ini menyebabkan pada tahun 1816 benua Eropa tidak mengalami musim panas, dan para petani di India gagal panen. Hujan Abu setebal 1 cm terjadi hingga Jawa Tengah dan Kalimantan. Meletusnya Gunung Tambora juga menyebabkan gelombang Tsunami setinggi 10 m yang menewaskan sekitar 10.000 orang. Sebelum meletus, ketinggian Gunung ini diperkirakan 4.000 m dpl. Akibat letusan, diameter kawah menjadi lebih dari 6 km dan kedalaman kawah 1110 m. Lihat saja daftar Volcano Explosivity Index (VEI) di web ini: www.volcanolive.com/tambora.html; http://volcano.und.nodak.edu/vwdocs/volc_images/southeast_asia/indonesia/tambora.html).

Om Beck, begitu dia dipanggil sama orang-orang. Nama aslinya Bakri. Seorang Bapak dengan 7 anak. Menurut pengakuannya, berdasarkan diary-nya, sejak tahun 1982-2005 dia sudah mendaki Gunung Tambora sebanyak 680 kali. Wow!

Setelah sholat dzuhur dan asar yang dijamak qoshor, beberapa dari kami mampir ke rumah Om Beck. Ternyata Om Beck masih ingat sama Achdiyat yang pernah mendaki G.Tambora pada tahun 1998 dan 2000. Om Beck menunjukkan peta perjalanan menuju puncak Gunung Tambora yang dimulai dari Desa Pancasila. Peta dari tulisan tangan itu cukup memberi semangat untukku. Yang terbayang selumnya sebenarnya adalah Gunung Tambora itu Gunung yang jarang didaki, sehingga perkiraanku medannya sangat sulit dan hutannya jarang dijamah. Yang membuat aku agak grogi ketika mendengar penjelasan bahwa perjalanan dari Desa Pancasila sampai Pos III kira-kira butuh waktu dari jam 06.00 sampai jam 16.00 atau 10 jam perjalanan normal. Padahal masih ada hingga Pos V dan puncak kira-kira butuh waktu 6 jam lagi. Rasa kekhawatiranku segera aku usir jauh-jauh, luruskan niat ... Allahu Akbar!

Dari Desa Pancasila kami menuju Base Camp dengan jalan kaki. Sepanjang jalan menuju basecamp, kami melihat pemandangan yang cukup mengenaskan. Hutan-hutan gundul dan lahan hutan yang dibakar mungkin akan dijadikan lahan pertanian. Entah perusahaan pemegang HPH disana memperhatikan kelestarian alam atau tidak, yang jelas kami melihat kejahatan yang dilakukan manusia dengan merusak hutan. Ya, merusak hutan. Titik. Debu-debu berhamburan mengiringi langkah kaki kami. Meski ngos-ngosan, kami tetap semangat untuk menuju base camp. Sungguh, tak terasa waktu sangat cepat menghantarkan kami menuju basecamp.



bersambung…

1 komentar:

riyo emes mengatakan...

mantabhhhh...
kapan ya kita bareng2 ke tambora?? hhehe kangen dgn savana, dusun pancasila n kawah tambora.

mas, boleh minta no kontak ombek??
(ryo= 085694392047)

saya dulu lupa minta kontak beliau (2013).
trima kasih.